Close-up of a pig playing in a pigsty. Group of pigs.

Punyan Tibah Di Kandang Celeng Untuk Hindari Leak



Dulu pada saat banyak orang Bali memelihara hewan ternak, tercetuslah sebuah gugon tuwon  yang menyatakan jika seseorang memelihara babi tapi tidak terdapat pohon mengkudu atau tibah maka babi itu akan mati amah leak. Lebih parahnya, seseorang yang tinggal dirumah tersebut jika kandang babi mereka tidak dipayungi oleh pohon tibah, maka orang-orang rumah akan terserang wabah penyakit. Konotasi orang Bali pada jaman dulu tentang penyakit adalah amah leak.

Pohon Mengkudu

Dengan demikian kandang babi atau badan celeng manusia Bali di buat dengan di sisi kanan atau kirinya ditanami pohon mengkudu. Pohon mengkudu adalah pohon yang tidak terlalu besar, tingginya 4 sampai 6 meter saja. Pohon ini terkenal dengan buahnya yang memiliki bau yang menyengat namun memiliki banyak khasiat untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit seperti maag, pilek, sakit kepala, bahkan diabetes.

Ternyata, faktanya adalah pohon mengkudu tersebut adalah anti septic terhadap kuman. Mungkin saja, kotoran ternak itu membawa banyak penyakit yang tentu saja akan berakibat kurang baik bagi kesehatan manusia itu sendiri. Oleh karena itu, buah mengkudu atau buah tibah ditanam di sekeliling kandang, dan membiarkan buah tibah yang sudah masak dengan sendirinya jatuh di tanah.

Karena seseorang peternak dapat saja menderita sakit kulit atau gatal-gatal dan menyebabkan kulitnya menjadi bruntusan. Buah mengkudu dapat digunakan sebagai obat untuk itu. Sekarang kemajuan jaman telah merubah sistem itu, dan sabun yang terbuat dari sari buah mengkudu untuk memperhalus kulit beredar di pasaran dengan murah. Itu saja sudah cukup untuk menjelaskan mengapa ada tibah disana.

Pengaturan kandang ternak juga diatur sedemikian rupa, dan sering kali ditempatkan di arah kelod kauh atau barat daya, yang nantinya kotoran dari limbah itu menjadi satu dengan kotoran yang merupakan limbah rumah tangga lainnya yang datang dari dapur. Saluran airnya dibuat dengan rapi dan di setiap sisinya ditanami jangu. Atau ada juga yang menanamnya di depan songbah atau got setiap rumah.

Songbah adalah saluran pembuangan rumah-rumah hunian di Bali, saluran itu dibuat lewat sistem terasering. Setelah itu, bagian bawahnya akan ditanami jangu, ini bertujuan untuk menahan logam-logam berat dari limbah rumah tangga agar tidak mengalir keluar saluran pembuangan. Untuk alasan itu juga mengapa setiap orang Bali mebanten di songbah, sebab saluran pembuangan limbah adalah hal yang utama dalam setiap pekarangan dan juga dalam banyak konteks.

jangu

Tanaman Jangu

Pengelolaan limbah orang Bali memang hebat, dan dengan ditanaminya jangu di sana, maka yang mengalir keluar adalah air yang sudah disaring, dengan demikian tidak akan membahayakan. Limbah yang tidak tersaring dengan baik akan berdampak kurang sehat. Ada banyak keracunan logam berat yang sangat berbahaya, untuk hal itulah, limbah pun perlu diperhatikan, dan penanaman jangu merupakan hal yang tepat untuk hal ini. Kemudian dengan adanya orang Bali mebanten di songbah, maka dengan sendirinya saluran itu akan tetap bersih. Jadi hunian manusia Bali adalah hunian yang ramah lingkungan dan memperhatikan kesehatan jasmani dan rohani secara simultan.

 

sumber : Artikel ini di kutip dari Buku “Bali Tenget” dengan pelbagai perubahan.

Gambar : http://www.kelair.bppt.go.id/sib3pop/Iptek/Jeringau/Jeringau.htm



Semoga Bermanfaat





Ngiring subscribe youtube channel Mantra Hindu inggih [klik disini]





Bermanfaat ? Sebarkan ke Keluarga dan Sahabatmu..

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mantra & Filosofi Terkait