hindu bali

Perjalanan Panca Pandawa Masuk Sorga



Setelah berakhirnya perang Bharata Yuda, Yudhistira menyerahkan tampuk pemerintahan kepada anak Abimanyu yang bernama Prabhu Parikesit. Beliau sepakat dengan saudara-saudara dan istrinya, Dewi Drupadi berniat untuk mengakhiri masa hidup keduniawiannya dengan maksud menuju pada tujuan akhir hidup sebagai manusia yaitu untuk dapat mencapai moksa. Yudhistira mengajak saudara-saudara dan istrinya tercinta untuk pergi ke gunung Mahameru sebagai langkah awal menuju moksa.

Dalam perjalanannya banyak rintangan yang dihadapi olehnya, selain hutan yang lebat, jalanpun tidaklah bagus, jurang dan tebing serta cuaca panas dan dingin dilaluinya. Singkat cerita akhirnya Dewi Drupadi tidak mampu mengikuti perjalanan suaminya karena kondisinya lemah dan akhirnya meninggal. Adik-adiknya bertanya, “Kak kenapa Dewi Drupadi yang pertama meninggalkan kita?” Dijawab oleh Yudhistira; ….oh adikku, Dewi Drupadi meninggal karena dia terlalu membedakan cintanya kepada kita semua, dia paling mencintai Sang Arjuna. Selanjutnya meninggal Sahadewa. Adiknya bertanya lagi, “Mengapa Sahadewa meninggal?” Dijawab lagi oleh Yudhistira, dia meninggal karena merasa dirinya sebagai lelaki yang paling tampan”. Selanjutnya disusul lagi oleh Nakula yang meninggal karena merasa dirinya ahli dalam memainkan pedang. Disusul lahi oleh Arjuna yang meninggal karena merasa paling pintar dalam memanah. Kemudian meninggalah Bima/Werkodara yang disebabkan oleh kesombongannya dan keangkuhannya serta merasa paling kuat. Akhirnya tinggal Yudhistira bersama anjing kesayangannya yang berwarna hitam.

Singkat cerita Yudhistira dijemput oleh Dewa Indra dengan kereta emasnya, Yudhistira dibujuk untuk naik ke kereta emasnya, akan tetapi anjingnya tidak diperbolehkan naik kereta emas tersebut. Dijawablah oleh Yudhistira, “kalau anjing saya tidak diperkenankan naik kereta emas ini, lebih baik saya tidak jadi naik. Karena saya amat sayang padanya sekalipun dia berwujud anjing.” Berkali-kali dibujuknya Yudhistira tetap pada pendiriannya. Di saat itulah anjing tersebut berubah wujud dan mengatakan bahwa dirinya adalah Dewa Dharma yang melindunginya. “Wahai anakku, saya sengaja menguji keluhuran budimu, karena engkau betul-betul berbudi luhur, jujur dan bijaksana, maka sekarang ikutlah di keretaku.”

Diceritakanlah Yudhistira sampai di Sorga, beliau kaget karena melihat saudara Duryodana yang ada di Sorga, sedangkan saudaranya tidak satupun yang ada di Sorga. Melihat keadaan itu beliau menanyakan keberadaan saudara-saudaranya kepada Dewa Indra, “Mengapa saudara dan istriku tidak ada di Sorga?” Mendengar pertanyaan itu, kemudian dijawablah oleh Dewa Indra, “Wahai Yudhistira semua saudara dna istrimu Drupadi kami tempatkan di Neraka, karena banyak membunuh saudara-saudaranya pada saat perang Bharata Yudha di Kuruksetra”. Kemudian Yudhistira kembali kembali menyampaikan pertanyaan kepada Dewa Indra. “Apakah membunuh musuh dalam perang itu salah?” kata Yudhistira.

“Kalau demikian tolong antarkan saya melihat saudara dan istriku!”

“Baiklah”, jawab Dewa Indra. Langsung Yudhistira menuju Neraka. Sesampainya di sana didengar saudara dan istrinya merintih kesakitan, kepanasan karena disiksa. Yudhistira pun tak tahan melihat kejadian itu, lalu menangis sedih dan tidak mau meninggalkan saudara dan istrinya sekalipun meskipun ia mendapat tempat di Sorga. Oleh karena Yudhistria tetap pada pendiriannya dan setia pada kebenaran, maka seketika itu pula Neraka berubah menjadi Sorga. Kejadian ini adalah untuk menguji kejujuran, kebenaran dan kesetiaan Yudhistira terhadap Dharma.

 

“Jadi apabila dikaitkan dengan tingkatan Moksa, karena kepergian Yudhistira tidak meninggalkan apa-apa, maka dapat digolongkan mencapai Parama Moksa.”

sumber : Agama Hindu dan Budi Pekerti

 



Semoga Bermanfaat

Bermanfaat ? Sebarkan ke Keluarga dan Sahabatmu..

3 thoughts on “Perjalanan Panca Pandawa Masuk Sorga

  1. ini kalo di Jawa biasanya dipentaskan di wayang kulit dengan lakon (pandawa moksa) pesan moral nya sangat dalam. kebenaran sejati untuk sampai “kepadaNya” harus melalui proses yang sangat berat (baratayuda), Baratayuda ada pada diri setiap orang, kemurnian akan di capai jika kita bisa mengalahkan diri kita sendiri (ego,nafsu dll).
    semoga kita bisa melewati “baratayuda” dan menemukan apa itu kesejatian (ingsun).
    assalamualaikum.
    omm swastiastu

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mantra & Filosofi Terkait