semara ratih

Perjodohanmu dalam Agama Hindu – Pal Sri Sedana



Pal Sri Sedana adalah suatu renungan atau (ramalan) untuk mengetahui rezeki atau nasib seseorang dalam kehidupan ini berdasarkan hari kelahirannya dengan menjumlahkan neftu (urip) Saptawara dengan Pancawara. Perhitungan hari dalam perumusan ini berdasarkan perhitungan pergantian hari yaitu tiap mulai terbitnya matahari (galang tanah) = jam 05.30 yang juga dijadikan perhitungan diawalinya dauh itu (Pancawara dan Saptawara).

Sementara untuk Patemon lanang istri yang disebut juga pakarman lanang istri artinya perjodohan laki dan wanita. Dalam Pal Sri Sedana, perhitungannya adalah dengan menjumlahkan saptawara, pancawara, dan sadwara (saptawara + pancawara + sadwara) kemudian di bagi 5 atau 16.

Saptawara adalah nama dari sebuah minggu atau pekan yang terdiri dari 7 hari berlaku pada adat budaya Jawa dan Bali, yaitu :

  1. Redite adalah hari Minggu memiliki urip 5,
  2. Soma adalah hari Senin memiliki urip 4,
  3. Anggara adalah hari Selasa memiliki urip 3,
  4. Buda adalah hari Rabu memiliki urip 7,
  5. Wraspati adalah hari Kamis memiliki urip 8,
  6. Sukra adalah hari Jumat memiliki urip 6, dan
  7. Saniscara adalah hari Sabtu memiliki urip 9.

Pancawara adalah nama sebuah minggu atau pekan yang terdiri dari 5 hari dalam budaya Jawa dan Bali,  yaitu :

  1. Umanis memiliki urip 5,
  2. Paing memiliki urip 9,
  3. Pon memiliki urip 7,
  4. Wage memiliki urip 4, dan
  5. Kliwon memiliki urip 8.

Sadwara adalah nama sebuah minggu atau pekan yang terdiri dari 6 hari dalam budaya Jawa dan Bali, yaitu :

  1. Tungleh memiliki urip 7,
  2. Aryang memiliki urip 6,
  3. Urukung memiliki urip 5,
  4. Paniron memiliki urip 8,
  5. Was memiliki urip 9,
  6. Mahulu memiliki urip 3.

Apabila keduanya di padukan maka akan mendapatkan suatu gambaran atau renungan tentang patemon lanang istri (perjodohan).

 

Patemon lanang istri disebut juga pakarman lanang istri artinya perjodohan laki dan wanita. Mengenai ramalan perjodohan yang biasa dipergunakan ada 2 macam, berdasarkan hari kelahiran seperti di bawah.

1. Patemon dengan pembaginya 5 (lima)

Adapun jumlah urip atau neptu hari kelahiran laki dan wanita (lanang istri) antara saptawara, pancawara, dan sadwara (saptawara + pancawara + sadwara) dibagi 5, sisa :

  1. Disebut Sri (makmur) artinya baik,
  2. Disebut Gedong (terlindung dalam gedung) artinya baik ,
  3. Disebut Peta (gaduh, bertengkar) artinya buruk,
  4. Disebut Lara (menderita, sakit-sakitan) artinya buruk,
  5. Disebut Pati artinya (patal, mendapat bahaya) buruk.

Penjelasan :

Laki-laki lahir Redite Umanis Urukung, sementara wanita lahir Buda Pon Tungleh. Maka hari lahir laki-laki (5 + 5 + 5 = 15) dijumlahkan (+) dengan hari lahir wanita (7 + 7 + 7 = 21). Jadi 15 + 21 = 36, kemudian 36 : 5 = 7 sisa 1 (Sri (makmur) artinya baik)

2. Patemon dengan pembaginya 16 (enam belas)

Adapun jumlah urip atau neptu hari kelahiran laki dan wanita (lanang istri) antara saptawara, pancawara, dan sadwara (saptawara + pancawara + sadwara) dibagi 16, sisa :

  1. Disebut Ala–ayu, Panes–tis (sedang) artinya suka duka, baik buruk, selalu mengalami perubahan, harus tahan uji.
  2. Disebut Durlaba, Sai-sai kewuh mengangkuhang awak (buruk) artinya selalu menghadapi kesulitan dalam mengatur rumah tangga.
  3. Disebut Wirang (buruk) artinya selalu dalam keadaan kecewa
  4. Disebut Pianake mati (buruk) artinya sulit mendapatkan keturunan (anak-anak meninggal)
  5. Disebut Doyan seger lanus-lanus dadi matinggenan masakaya, mandrisdis (baik sekali) artinya kesehatannya baik selalu penghasilannya meningkat, hidup rukun dan bahagia.
  6. Disebut Kamranan (buruk) artinya penderitaan, sakit-sakitan.
  7. Disebut Suka-duka makelo-kelo ya numadi (sedang) artinya suka duka lama kelamaan bisa meningkat penghasilannya (usahanya).
  8. Disebut Doyan terak (buruk) artinya selalu kekurangan.
  9. Disebut Sakite tong ada tuna sai-sai, sahidupe tuah sangsara (buruk sekali) artinya hampir setiap hari kesakitan, selamanya menderita.
  10. Disebut Bikas ratune pinanggih (baik) artinya dapat mengayomi atau melindungi keluarga dan berwibawa, hidup berkecukupan.
  11. Disebut Sebita (baik) artinya selalu ada, keadaan puas.
  12. Disebut Sedana tulus (baik) artinya murah rezeki dan hidup rukun.
  13. Disebut Agung lama (baik) artinya selamanya tidak kurang harta (kaya) dan panjang umur.
  14. Disebut Dahating bagia (sangat baik) artinya hidup tenang dan bahagia.
  15. Disebut Dahating ala (sangat buruk) artinya sangat buruk hidupnya dan mandul.
  16. Disebut Bagia kapanggih (baik) artinya hidup rukun dan memperoleh kebahagiaan.

Penjelasan :

Laki-laki lahir Redite Umanis Urukung, sementara wanita lahir Buda Pon Tungleh. Maka hari lahir laki-laki (5 + 5 + 5 = 15) dijumlahkan (+) dengan hari lahir wanita (7 + 7 + 7 = 21). Jadi 15 + 21 = 36, kemudian 36 : 16 = 2 sisa 4 (Disebut Pianake mati (buruk) artinya sulit mendapatkan keturunan (anak-anak meninggal))

Semoga pengetahuan ini bisa bermanfaat bagi semua.

Bagaimana menurut anda ?

Sebarkan ke seluruh umat……

sumber : kalenderbali karangan IBG. Budayoga, S.Ag.MSi

 



Semoga Bermanfaat

Bermanfaat ? Sebarkan ke Keluarga dan Sahabatmu..

5 thoughts on “Perjodohanmu dalam Agama Hindu – Pal Sri Sedana

  1. Ada yang salah dengan pembagi lima. Dari sumber buku catatan bapak saya, pembagi 5 itu hanya mempertemukan sapta wara dan pancawara.

    Juga ada hal yang janggal dari judul di atas; Pal Sri Sedana bukan untuk mencari perjodohan tetapi digunakan untuk mengetahui rezeki seseorang berdasarkan umur dan neptu urip panca wara saptawara. Sedangan untuk mencri perjodohan berasal dari Lontar Tri Pramana, yang disebut Tri Pramana yaitu Sapta wara, Panca Wara dan Sadwara.

  2. Jika perjodohan berhasil buruk seperti yg diatas…apkah ada upacara atau semacamnya untuk menangkal atau membuat lebih baik ??

  3. seberapa akurat ramalan ini? karena masing2 agama dan negara punya ramalannya masing2…
    misalnya ramalan bali gak bagus, ternyata ramalan cina bagus, gmn menyikapi?
    terima kasih

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mantra & Filosofi Terkait