bhatara+ghana

Pekarangan Rumah – Hindari “Palemahan Hala” dan “Karang Kebaya-baya”



Pekarangan yang harus dihindari atau dalam bahasa Bali sering disebut dengan “Karang Panes” biasanya ditandai dengan adanya kejadian/musibah yang menimpa anggota keluarga, misal: sering sakit, marah-marah tidak karuan, mengalami kebingungan(linglung), mudah bertengkar dan lain-lain.

Jadi hindari lokasi yang disebut dengan “Palemahan Hala” dan “Karang Kebaya-baya”.

Palemahan Hala

  1. Ucem, yaitu tanah yang berwarna hitam, selintas kelihatan seperti kotor, disebut “ucem”, membawa sial.
  2. Melekpek, yaitu lokasi di mana kita merasa panas tidak wajar, disebut “melekpek”, membawa bencana pertikaian, perkelahian, tidak damai.
  3. Manyeleking, yaitu lokasi dalam satu batasan pagar yang ditempati oleh lebih dari satu keluarga yang tidak ada hubungan darah, disebut “manyeleking”, membuat kesehatan sering terganggu.
  4. Sandang Lawe, yaitu Berhadapan dengan pertigaan atau perempatan jalan disebut “sandang lawe” atau tusuk sate, membuat penghuni sakit-sakitan.
  5. Sula Nyupi, yaitu lokasi dikelilingi jalan, disebut “sula nyupi”, membawa sial
  6. Kuta Kabanda, yaitu Lokasi di muka dan di belakang atau di samping kiri dan kanan ada jalan umum (di apit jalan), disebut “kuta kabanda”, membawa bencana.
  7. Teledu Nginyah, yaitu lokasi di samping tanah kosong sandang lawe (lihat nomor 4), disebut “teledu nginyah”, membawa kesusahan hidup dan kesehatan sering terganggu.
  8. Karang Grah, yaitu Lokasi bersebelahan (kurang dari jarak “apenimpug”, “apeneleng” yaitu sekitar 200 – 300 meter) dengan Pura Kahyangan Tiga, Dang Kahyangan, Sad Kahyangan, disebut “karang grah”, sering dimasuki pencuri, dan tidak merasa tentram karena selalu terancam bahaya.
  9. Amada-mada Bhatara, yaitu Dua bidang tanah yang saling berhadapan namun dibatasi jalan raya, kedua-duanya dimiliki oleh satu orang atau satu keluarga, disebut “amada-mada Bhatara”, membuat penghuninya selalu sedih dan sakit-sakitan.
  10. Boros Wong, yaitu Satu bangunan namun mempunyai dua pintu masuk/keluar yang sama ukuran dan bentuknya disebut ” boros wong” membuat penghuninya sulit ekonominya, serba kekurangan, dan susah menabung.
  11. Suduk Angga, yaitu Satu bangunan di mana air limbahan, atau air hujan dari atap jatuh kepekarangan orang lain, maka tanah yang ketimpa air limbah itu disebut “suduk angga” membawa sial dan sakit-sakitan.

 

Karang Kebaya-baya

Selain “palemahan hala” seperti yang dikemukakan di atas, perlu juga dihindari tanah pekarangan yang disebut “karang kebaya-baya” yaitu:

  1. Nemu Baya, yaitu ketika berada di tengah-tengah pekarangan, perasaan seperti sunyi dan takut, walaupun ada banyak orang dan banyak rumah di sekitarnya. Untuk menyimak hal ini perlu berada di tanah itu beberapa saat, sekitar 30 menit dengan mengkonsentrasikan pikiran. Jika benar demikian, penghuninya akan mendapat berbagai bahaya.
  2. Karang Tenget, yaitu tanah bekas pura atau sanggah pamerajan, bekas kuburan, dan bekas Geria atau pertapaan Sulinggih. Jika ditempati akan membawa bencana perkelahian.
  3. Bhuta Salah Wetu,yaitu di tanah pekarangan itu pernah ada binatang melahirkan tidak wajar, misalnya babi atau anjing beranak satu, sapi atau binatang yang mestinya berkaki empat lahirnya hanya berkaki tiga atau kurang, pohon pisang keluar tandannya dari tengah-tengah batang, pohon kelapa di atasnya bercabang dua, dll. jika dibangun perumahan atau Pura akan membawa bencana kemalangan.
  4. Bhumi Sayongan, yaitu : dari dalam tanah keluar asap misterius tanpa bekas pembakaran, dan banyak binatang tabuhan atau nyawan berterbangan apalagi membuat sarang. Penghuninya nanti akan mendapat kecelakaan.
  5. Oong Baya, yaitu ada cendawan tumbuh liar, pertanda penghuninya kelak akan mendapat kesulitan hidup.
  6. Toya Baya, yaitu jika ada air berwarna kemerahan seperti darah keluar dari dalam tanah membawa akibat penghuninya sering berkelahi bahkan sampai terjadi pertumpahan darah.

 

Pangupa Hayu

Pangupa hayu adalah usaha untuk menghindarkan bahaya-bahaya yang mengancam, karena “palemahan hala” dan “karang kebaya-baya”. Bila terpaksa harus membangun di tanah-tanah kurang baik seperti tersebut di atas, lakukan hal-hal sebagai berikut:

  1. Untuk pekarangan “sandang lawe”, buatkan padma capah tepat di arah jalan dari depan, di mana distanakan Sanghyang Indra Balaka.
  2. Untuk pekarangan: “sula nyupi”, “kuta kebanda”, dan “teledu nginyah” di tengah-tengah pekarangan dibuat padma capah di mana distanakan Sanghyang Dhurgamaya.
  3. Untuk “karang grah” dibuatkan bangunan “sombah” yaitu tembok pagar yang berlubang sebagai symbol keluar-masuknya Sang Kala Awengku Rat.
  4. Untuk tanah-pekarangan lain-lain yang termasuk palemahan hala dan karang kebaya-baya agar dibuatkan banten caru dengan tingkatan yang lebih besar misalnya “manca sanak”, “manca kelud”, dan “balik sumpa”.

sumber : berbagaisumber

 



Semoga Bermanfaat





Ngiring subscribe youtube channel Mantra Hindu inggih [klik disini]





Bermanfaat ? Sebarkan ke Keluarga dan Sahabatmu..

2 thoughts on “Pekarangan Rumah – Hindari “Palemahan Hala” dan “Karang Kebaya-baya”

  1. Apakah masih relepan hal ini diterapkan di negara yang berdasarkan Pancasila, kita tidak tinggal sendirian, atau satu golongan, dan ada golongan lain juga yang tinggal di Indonesia, apabila kita menerapkan hal ini kita akan mengalami kemunduran dan pemborosan dan selalu curiga dengan lingkungan tempat tinggal, setiap ada kejadian atau kemalangan kita ga pernah mencari penyebabnya, apakah human eror, atau kecelakaan karena tempatnya? Mari kita robah mainshet kita, karena perubahan ada ibu dari kemajuan.

  2. Rumah tyang tepat berada do depan kuburan.. besar pekarangan saya sama besar dgn pemedal kuburan,saya tidak punya tanah lain.. di depan sudah saya buat pelinggih sang hyang indra belaka tpi saya tidak tau apakah sudah berfungsi dgn tepat atau belum.. krn saat itu saya blum menjadi jro.. ada jro lain yg muput.. dlm hal ini apa yg musti saya lakukan??

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mantra & Filosofi Terkait