img_3573-low

Upacara Satu Oton Bayi Dalam Agama Hindu



Ketika bayi menginjak usia 210 hari atau enam bulan pawukon, maka dibuatkan upacara otonan. Upacara ini bertujuan untuk menebus kesalahan kesalahan dan keburukan keburukan yang terdahulu, sehingga dalam kehidupan yang sekarang mendapat kehidupan yang lebih baik. Mulai saat ini bayi boleh memakai perhiasan emas, perak atau ratna mutu manikan. Kalau anak belum punya nama, maka pada saat ini adalah saat terakhir untuk memberi nama. Atau kalau mau mengganti nama anak pada saat ini juga dilakukan. Untuk Sang Catur Sanak pada saat ini juga dilukat dan diberi nama baru, yaitu : yeh nyom disebut anggapati, Getih/darah disebut Mrajapati, Ari-ari disebut banaspati, dan Lamad/puser disebut Banaspati Raja.

Karena tugas mereka untuk mengemban rare sudah selesai, maka sang Catur Sanak  kembali ke kahyangannya masing-masing,antara lain :

  1. Sang Anggapati pergi ke Timur
  2. Sang Mrajapati pergi ke Selatan
  3. Sang Banaspati pergi ke Barat
  4. Sang Banaspati Raja pergi ke Utara

Banten yang dipergunakan biasanya : peras sedan tumpeng 11, dapetan, pengambyean, canang daksina, suci, banten pemarisuda rare dan Sang Catur Sanak, byakawon, prayascita, banten turun ke tanah, tedak siten, banten kumara, dan pengempug atau banten tumbuh gigi.

Pada saat otonan ini juga dilakukan acara menggunting rambut si bayi, sebagai simbol yang ada untuk menghilangkan dasa mala yang ada pada bayi tersebut, untuk selanjutnya bayi boleh digundul kuncung, artinya tidak pelontos, rambut disisakan sedikit ebagai penutup ubun ubunnya.

Pada saat satu oton ini si bayi juga diperkenankan untuk menginjak tanah, agar mendapat berkah dari Sang Hyang Pertiwi. Dengan banten tuwun tanah atau tedak site. Oleh karena itu mulai saat ini, si anak boleh menginjak tanah dan mulai saat ini si anak boleh diberi makan nasi. Selanjutnya si Bayi nateb banten ngempugin agar segera tumbuh gigi. Lalu kelapa dan telur yang ada di banten pengempug itu dipecahkan. Kemudian gusi si bayi digosok gosokkan dengan air putih kelapa dan putih telur tersebut. Ini adalah salah satu mantra ngempugin.

Mantra:

“Om Sang Hyang Surya, Brahma endih empug seka wenten untune si ( nama anak ), wesi kari pinaka untune, bumi kari pinaka gusine, arate jajare kaya walandingan sinigar, sira bhatara sri angelutaka untune si  ( nama anak ), tan keneng jamuran, tan keneng subatahan, munggah untune, Om Maha Bhatari Siwa bumi maha Sidhi”

Artinya :

Om Sang Hyang Widhi Wasa dalam Wujud Sang Hyang Surya, Semoga gigi si anak,tumbuh sehat dan kuat. Mohon Bhatara Sri berkenan mensucikan sehingga giginya terhindar dari penyakit.

Sedangkan untuk upacara turun tanah, salah satu bait mantranya berbunyi sebagai berikut :

“…….. turun turun si jabang bayi, turun maring lemah, katutan mas picis raja brana…..”

Artinya :

Maka turunlah si anak menginjak tanah, diikuti oleh segala kebutuhan hidupnya, berupa mas pipis raja brana, semoga hidupnya selamat dan makmur sentosa.

sumber : Buku Kanda Empat Rare Oleh Mangku Alit Pekandelan & Drs. I Wayan Yendra



Semoga Bermanfaat

Bermanfaat ? Sebarkan ke Keluarga dan Sahabatmu..

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mantra & Filosofi Terkait