leak

Suri Asuri Sampad dalam Ajaran Hindu



Ajaran susila dendaknya diterapkan dalam kehidupan kita di dunia ini, karena di dunia inilah tempat kita berkarma. Pembenahan diri sendiri merupakan prioritas yang utama disamping membenah diri dalam hubungan dengan orang lain. Kelahiran kita merupakan tangga untuk naik sorga. Oleh karena itu kesempatan ini kita abdikan untuk meningkatkan diri dalam kebajikan agar tidak jatuh ke neraka. Untuk dapat meningkatkian diri, manusia harus mampu meningkatkan sifat-sifat baik dan mulia yang ada pada dirinya.

Kata susila membina watak manusia agar menjadi anggota keluarga yang baik, anggota masyarakat yang baik, anggota atau putra bangsa yang berbudi pekerti luhur, kepribadian mulia sehingga mencapai kebahagiaan abadi. Adapun kebahagiaan yang mutlak dan abadi hanya dapat dinikmati bila roh atau jiwatman seseorang dapat mencapai kesatuan dengan ida sangyang widhi, karena hanya dengan kesatuan antara jiwatman dengan ida sangyang widhi itu saja yang dapat memberi kebahagiaan yang dilipat oleh perasaan tenang dan tentram yang dilukiskan dengan istilah anandha, suka tapa wali duka.

Pada dasarnya dalam diri manusia ada dua kecenderunga, yaitu kecenderungan berbuat baik dan kecenderungan berbuat buruk. Sri Kresna di dalam kitab Bhagawadgita membagi kecenderungan budi manusia menjadi dua jenis, yaitu Daiwi Sampad yakni sifat-sifat kedewataan, dan Asuri Sampad yakni sifat-sifat keraksasaan. Istilah Daiwi Sampat sama dengan Suri Sampat . Manusia bisa berprilaku dharma, cerdas, dan bijaksana kalau Manas dan Buddhi mendapat pengaruh positif dari Daiwi Sampad; sebaliknya bila Manas dan Buddhi mendapat pengaruh negatif dari Asuri Sampad, terjadilah prilaku yang adharma dan avidya.

Daiwi Sampad bermaksud menuntun perasaan manusia ke arah keselarasan antara sesama manusia. Sifat-sifat ini perlu dibina, seperti diungkapkan di dalam kitab Bhagawadgita, XVI.1, 3 dan 5 yang berbunyi sebagai berikut :

“Abhayam sattwassamocuddhir jnanayogawyasvathitih danamdamaca yadnas ca swadhyayas tapa arjawam”.

Artinya:

Tidak mengenal takut, berjiwa murni, giat untuk mencapai kebijaksanaan dan yoga, berderma, menguasai indria, berkorban, mempelajari ajaran-ajaran kitab suci, taat berpantang dan jujur.

“Tejahksama dhrtih saucam adhro na ‘timanita Bhawanti sampadam daiwin abhijatasya bharata”.

Artinya:

Kuat, suka memaafkan, ketawakalan, kesucian, tidak membenci, bebas rasa kesombongan, ini tertolong pada orang yang lahir dengan sifat-sifat dewata, oh Arjuna.

“Daiwi Sampad wimoksaya nibandaya suri mata ma sucah sampadan daiwim abhijato si pandawa.

Artinya:

Kelahiran yang bersifat Ketuhanan dikatan memimpin ke arah moksa dan yang bersifat setan ke arah Ikatan. Jangan bersedh hati, oh pandawa (Arjuna), engkau dilahirkan dengan sifat-sifat dewata.

Kemudian mengenal sifat-sifat Asuri Sampad (sifat-sifat yang buruk) yang harus kita hindari dijelaskan dalam kitab Bhagawadgita, XVI.4, 17 dan 21 yang berbunyi sebagai berikut :

“Tambho darpo bhimanas krodah parusyam eva ca Ajnanam cabhijatasya partha sampadan asur”.

(Bhawadgita, XVI.4)

Artinya:

Berpura-pura, angkuh, membanggakan diri, marah, kasar, bodoh, semuanya ini adalah tergolong yang dilahirkan dengan sifat-sifat raksasa (Asuri Sampad),oh Arjuna.

“Atma sambhawatah stabdha dhana mana madanwitah Jayabnte namayajnais te dambhena widhipurvakam.”

(Bhawadgita, XVI.17)

Artinya:

Menganggap dirinya yang terpenting, keras kepala, penuh dengan kesombongan, gila akan kekayaan, bersifat pura-pura, semuanya ini adalah bertentangan dengan ajaran kitab suci.

 

  • Faktor-faktor Pembentuk Perilaku Manusia

Perilaku manusia dibentuk sejak dalam kandungan oleh faktor-faktor sebagai berikut:

  1. Kondisi pasangan suami-istri ketika berhubungan badan.
  2. Kondisi kandungan atau bayi sejak embrio hingga lahir.
  3. Karmawasana/ karmaphala roh dari kehidupan di masa lalu, swabhawa (bibit-bibit sifat) dan swaguna (bibit-bibit bakat).
  4. Posisi benda-benda angkasa (matahari: uttarayana atau daksinayana, bulan: penanggal atau panglong, dan bintang: rasi) ketika bayi lahir.
  5. Kondisi lingkungan sejak bayi lahir, tumbuh, dan berkembang.
  6. Pendidikan dan pengajaran, kualitas dan jenjang pendidikan.
  7. Jenis pekerjaan yang ditekuni ketika dewasa.

Ketujuh faktor di atas membentuk dua jenis perilaku utama manusia, yaitu:

  1. Perilaku baik atau perilaku kedewataan (Daiwi Sampat) antara lain:
  1. Berbakti, hormat, dan menyayangi orang tua.
  2. Hormat dan sayang kepada guru/ pengajar.
  3. Taat beragama dalam anti menjalankan ajaran agama.
  4. Setia pada nusa-bangsa.
  5. Rajin belajar dan bekerja.
  6. Berdisiplin, melaksanakan tapa (pengenalian diri).
  7. Bersosialisasi dengan masyarakat dengan baik.
  8. Berjiwa besar, mengabdi pada kepentingan umum.
  9. Hidup sesuai dengan kemampuan.
  10. Menjadi manusia yang produktif, bukan konsumtif.
  11. Tidak cemburu, dengki dan iri hati kepada keberhasilan orang lain.
  12. Menyayangi keluarga, dan umat manusia secara luas.
  13. Mencintai alam semesta.
  14. Berkata-kata yang sopan, jujur, tidak membentak-bentak, tidak memfitnah, tidak mengadu domba, tidak menyebarkan berita bohong, dan setia pada kata-katanya sendiri.
  15. Perilaku buruk (Asuri Sampad) berbanding terbalik dengan Daiwi Sampad. Asuri Sampad dibentuk oleh maraknya perilaku yang tergolong dipengaruhi oleh Sad-Ripu (enam musuh) utama yang ada di dalam diri manusia itu sendiri, yaitu:
  16. Kama: keinginan memuaskan nafsu secara berlebihan
  17. Lobha: rakus
  18. Kroda: suka/ gampang marah-marah
  19. Mada: mabuk pada: kekuasaan, kekayaan, martabat
  20. Moha: sombong atau memandang rendah orang lain
  21. Matsarya: cemburu, dengki dan iri hati

Saat awal penciptaan (utpatti) Tuhan (Sanghyang Widhi/Sanghyang Acintya) yang semula adalah Nirguna Brahma (Parama Siwa) yang tidak berbentuk, tidak beraktivitas, kosong, menjadikan diri-Nya Saguna Brahma (Sada Siwa) yang berwujud, beraktivitas, dan terisi. Sada Siwa terdiri dari dua unsur kemahakuasaan yakni, Purusa adalah unsur kemahakuasaan dalam kejiwaan dan Prakrti adalah unsur kemahakuasaan dalam kebendaan. Prakrti mulanya menciptakan Bhuwana Agung (alam semesta) yang terdiri dari Panca Mahabhuta: pertiwi, apah, bayu, teja, dan akasa. Tahap berikutnya Prakrti membentuk pula tubuh manusia dari unsur-unsur Panca Mahabhuta di Bhuwana Agung itu, yaitu:

  1. Dari pertiwi (tanah), terbentuk tulang dan daging (bagian yang keras dari tubuh manusia).
  2. Dari apah (air), terbentuk: darah, air kencing, air keringat, lemak, lendir, ludah, (bagian yang cair dari tubuh manusia).
  3. Dari bayu (angin), terbentuk udara dalam tubuh manusia di paru-paru, rongga perut, oksigin dalam darah, (bagian yang berangin/udara dalam tubuh manusia).
  4. Dari teja (matahari), terbentuk suhu badan yang hangat, dan sinar mata yang cemerlang (bagian yang panas dalam tubuh manusia).
  5. Dari akasa (angkasa), terbentuk urat syaraf, rambut, kuku, dan 9 lobang dalam tubuh manusia (bagian-bagian yang sensitif).

Oleh karena itu tubuh manusia disebut Bhuwana Alit atau Sthula Sarira. Purusa di Bhuwana Agung (alam semesta) tetap bersemayam sebagai Sada Siwa, mengatur peredaran bumi, bulan, bintang, pergerakan angin, perputaran arus laut, pengaturan musim, dan lainnya. Purusa di Bhuwana Alit (tubuh manusia) menjadi Jiwatma atau Suksma Sarira, atau Lingga Sarira, atau Tri Antah Karana yang terdiri dari:

  1. Buddhi, yang berfungsi menentukan keputusan.
  2. Manas, yang berfungsi berpikir.
  3. Ahamkara, yang berfungsi sebagai perasa dan bertindak.

Pada Kehidupan atau Sthiti Prilaku manusia, tergantung dari proses yang terjadi pada Tri Antah Karana. Proses ini, terutama pada Manas dan Buddhi dipengaruhi oleh Triguna yakni: Guna Satwam (ketenangan, kedamaian), Guna Rajas (ambisi, kegiatan, dinamika), dan Guna Tamas (kemalasan, ketidak pedulian).

Triguna berasal dari pembawaan roh ketika menjelma, dan dari pengaruh lingkungan hidup. Kombinasi Triguna membentuk Sampad (sifat). Sampad dikenal ada dua jenis, yaitu Daiwi Sampad yakni sifat-sifat kedewataan, dan Asuri Sampad yakni sifat-sifat keraksasaan.

Manusia bisa berprilaku dharma kalau Manas dan Buddhi mendapat pengaruh positif dari Daiwi Sampad; sebaliknya bila Manas dan Buddhi mendapat pengaruh negatif dari Asuri Sampad, terjadilah prilaku yang adharma.

Pada kematian atau Pralina. Disaat kematian Suksma Sarira masih terbelenggu, Panca Kosa atau Karma Wasana, tidak dapat dilepaskan dari Jiwatman dengan upacara pitrayadnya. Nilai Karma Wasana inilah yang menentukan apakah Jiwatman dapat bersatu kembali dengan Brahman, proses mana disebut Moksah, yakni bilamana karmawasana baik, atau Jiwatman harus Punarbhawa (menjelma kembali) sebagai manusia atau mahluk yang derajatnya lebih rendah bila karmawasana tidak baik.

Manusia yang dipengaruhi oleh Tri Guna yang terdapat dalam dirinya selalu bergerak aktif dan berbuat. Perbuatan atau kegiatan yang dilakukan itu kadang-kadang disadari, kadang-kadang tidak disadarinya. Kegiatan atau perbuatan tersebut ada yang baik dan ada yang tidak baik, kesemuanya itulah yang disebut dengan karma. Disini adanya keterkaitan antara Karma Phala dengan Karma Wasana. Prarabda karmaphala langsung berpengaruh pada Sthula Sarira dan Tri Antah Karana di saat manusia hidup. Kryamana karmaphala melekat pada Karmawasana dan Sancita karmaphala berpengaruh pada Sthula Sarira dan Tri Antah Karana pada kehidupan berikutnya setelah punarbhawa. Demikianlah proses Trikona: Utpatti – Sthiti – Pralina berlangsung dan berulang terus, sampai tiba masanya atman aworing acintya (moksah).

  • Kaitan Asuri Sampad dengan Ajaran Sad Ripu

Dalam Kitab Bhagawadgita telah disebutkan bahwa pada dasarnya kecederungan budhi manusia ada dua jenis yaitu Daiwa Sampad dan Asuri Sampad. Asuri sampad adalah kecenderungan-kecenderungan untuk berbuat tidak baik (Asubha Karma). Banyal perilaku yang tidak baik yang perlu kita hindari, dan bahkan dalam ajaran agama Hindu perbuatan-perbuatan yang tidak baik digolongkan Adharma dan merupakan musuh dalam diri manusia. Sad-Ripu sebagai sumber dari Asuri Sampad terbentuk (mengkristal) karena pengaruh dari Panca-Indria:

  1. Dari indria pendengaran (Sabda tanmatra), misalnya: suka dipuji-puji.
  2. Dari indria penglihatan (Rupa tanmatra), misalnya: suka melihat yang bagus/ indah-indah, suka pamer diri, berdandan berlebihan, dan lain-lain.
  3. Dari indria penciuman (Ganda tanmatra), misalnya: suka mencium sesuatu yang harum-harum, yang gurih, enak, dan lain-lain.
  4. Dari indria lidah (Rasa tanmatra), misalnya: suka makan yang enak-enak.
  5. Dari indria kulit (Sparsa tanmatra), misalnya: suka diraba yang halus-halus.

Dalam kekawin Ramayana disebutkan ragadi musuh mapari ri hati ya tongwania tan maduh riawak, artinya kama atau nafsu keinginan adalah sejenis musuh yang dekat dalam hati, tempatnya tidak jauh dari diri sendiri. Singkat kata, sesungguhnya musuh-musuh itu bermula dari diri kita sendiri, maka dari itu tanyakan pada diri sendiri, mengapa musuh itu ada. Setelah ketemu asal mulanya, carilah pemecahan yang paling bijaksana agar musuh-musuh dapat dijinakkan atau diatasi. Asuri Sampad dibentuk oleh maraknya perilaku yang tergolong dipengaruhi oleh Sad-Ripu (enam musuh) utama yang ada di dalam diri manusia itu sendiri, adapun bagian-bagian dari Sad-Ripu adalah:

  1. Kama

Keinginan bila dikendalikan dan diarahkan ke hal-hal positif akan bermanfaat. Namun, jika tidak dikendalikan dapat membahayakan dan menjerumuskan diri sendiri. Contohnya, Seorang anak smp baru saja bisa naik motor lalu ia kebut-kebutan. Padahal motor yang dipakai merupakan motor pinjaman dan ia pun belum memiliki sim C. akhirnya ia mengalami kecelakaan. Bayangkan akibatnya, banyak pihak ia buat susah termasuk dirinya sendiri.

  1. Loba

Orang-orang yang loba selalu resah, gelisah, gusar, resah bekerja seperti robot, tidak mengenal waktu, dan tidak memperhatikan kesehatan. Akibatnya hidup selalu susah, gelisah, selalu merasa ada beban, tidak pernah menikmati rasa keindahan, dan kenikmatan hidup. Loba merupakan bagian dari hidup kita. Jadi, berhati-harilah menyiasati loba agar kita tidak diperbudak olehnya. Arahkanlah sifat loba ke hal yang positif, benar dan bermanfaat. Contohnya, Andi punya prestasi olahraga silat dan dapat juara. Lalu semua cabang olahraga seperti sepak bola, bulu tangkis, renang, dan catur ingin diikutinya. Akibatnya andi tak pernah beristrirahat, sehingga kelelahan. Akhirnya keinginan andi untuk menang atau juara disemua olahraga gagal karena sifat lobanya.

  1. Kroda

Kemarahan timbul karena jengkel, bosan, tersinggung, kesepian, kecewa, capek, merasa terhina, difitnah, dinodai, diabaikan, atau dilecehkan. Kemarahan adalah sumber penderitaan. Adapun alasanya, marah itu tidak baik. Marah dan emosi tidak dapat menyelesaikan masalah. Marah merupakan racun batin yang sangat berbahaya dan dapat menghancurkan kehidupan spiritual. Jika marah atau kesal muncul, segeralah menarik nafas dalam-dalam, minum air dingin dan sedapat mungkin menjauhkan diri dari sumber penyebab marah. Jika ada cermin tataplah satu persatu bagian wajahmu. Bandingkan dengan wajahmu ketika dalam kedaan ceria dan bahagia. Mana yang kamu sukai? Ada istilah yang sering kita dengar “ marah akan cepat tua” jika marah sulit dihilangkan atau dikendalikan, pergilah ketempat yang sepi (umpamanya ke pantai). Berteriaklah sekeras-kerasnya, sehingga terasa kestabilan dalam hati atau pikiran.

  1. Moha

Pikiran bingung membuat kita menjadi tidak terkontrol. Orang yang dalam keadaan binggung tidak dapat berfikir dan melakukan pekerjaan dengan baik. Kebinggungan berpengaruh besar terhadap kesehatan. Dalam pepatah dikatakan kesehatan adalah harta yang paling berharga. Adapun beberapa sumber penyebab kebingungan, antara lain:

  1. Kesusahan yang amat dalam, seperti soal-soal ujian yang tidak dapat dijawab dan tidak punya uang untuk berobat.
  2. Kehilangan orang yang sangat dicinta seperti orang tua yang meninggal
  3. Perasaan tertekan seperti selalu dihina, dilecehkan, diolok-olok, dan diancam.

Agar kebingungan dapat diatasi dengan bijak, ia hendaknya kita selalu berfikir panjang, tenang, penuh kearifan, dan penuh pertimbangan. Kita juga harus senan tiasa menyeimbangkan pembentukan pikiran dengan hati nurani dan selalu merasa bersyukur atas karunia Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

  1. Mada

Mada artinya mabuk, seperti mabuk karena minuman keras dan narkoba. Minuman merupakan salah satu penyakit yang sulit dihilangkan. Kita harus menghindari atau menjau agar masyarakat, khususnya generasi muda, tidak minum. Minuman beralkohol diatas 10%, secara ilmiah dapat merugikan hidup kita. Disaat mabuk tidak dapat mengontrol diri, semua rahasia terbongkar kata-kata ngawur, dan tidak kejahatan dapat terjadi. Jika terbiasa mengkonsumsi minuman keras akan rentan terhadap serangan penyakit seperti lever, stroke, jantung, gagal ginjal dan penyakit syaraf lainya. Mabuk yang disebabkan oleh kepandaian, kekayaan, dan keduukan dapat menyebankan lupa diri sehingga menjadi sombong, angkuh, arogan, dan bertindak kasar dan kejam. Hal ini akan merugikan diri sendiri seperti dimusuhi orang, dijauhi, dibenci, bahkan dibuat celaka. Jika menginginkan pikiran damai, tenang, batin suci dan hubungan dengan orang lain tetap harmonis, hindarilah segala bentuk mabuk. Ingatlah dengan ajaran sapta timira yaitu tujuh penyebab kegelapan yang menghancurkan diri sendiri.

  1. Matsarya

Perasaan iri hati atau irsya adalah perasaan yang tidak mau tersaingi oleh orang lain yang lebih sukses, berhasil atau bahagia. Ada ungkapan bahwa orang iri selalu terlihat sinis, muka selalu masam, dan kata-katanya selalu mengada-ngada.

Contoh:

Jika teman mendapat penghargaan, dan bintang kelas, kita iri, lalu menuduh bahwa penghargaannya di dapat dengan cara curang. Akhirnya muncul keinginan untuk mengerjai, memusuhi, dan merusak barang orang yang dapat penghargaan tersebut.

Agar sifat iri hati dalam diri dapat dihindari, maka tumbuh kembangkanlah sifat kasih, anti kekerasan, jujur, pegang teguh kebenaran, dekatkan diri pada sang pencipta, tingkatkan sikap saling percaya dan menghargai, dan besarkan jiwa menerima kenyataan. Ingatlah, sifat iri yang tidak terkendali akan menyebabkan munculnya tindak criminal dan akan berhadapan dengan penegak hukum.

BAGAIMANA MENURUT ANDA?

SEBARKAN KESELURUH UMAT HINDU

 

sumber :

phinossite

Sukartha, I Ketut, dkk. 2004. Widya Dharma Agama Hindu. Jakarta:Ganesha Exact

Sudirga, Ida Bagus,dkk. 2007. Widya Dharma Agama Hindu. Jakarta:Ganesha Exact

Supartha, I Made, dkk. 2007. Genitri Pendidikan Agama Hindu. Denpasar: Tri Agung

 

 



Semoga Bermanfaat

Bermanfaat ? Sebarkan ke Keluarga dan Sahabatmu..

2 thoughts on “Suri Asuri Sampad dalam Ajaran Hindu

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mantra & Filosofi Terkait