Old-Bali-map3

PANCA DATU (Asal-Usul Nama Pulau Bali)



Ada sebuah tempat yang sangat angker dan berbahaya sekali disebut Swapringga atau Nusa Dawa. Atas petunjuk Hyang Pasupati, Rsi Markandia, Rsi Mumpuni dari Jawa diiringi pengikut 800 orang, menata pulau tesebut. Beliau menata, sama sekali tidak menghaturkan yadnya, menyebabkan pengikutnya banyak meninggal diserang penyakit dan bencana alam. Setelah itu, beliau kembali datang diiringi pengikut 400 orang. Kedatangan beliau kali ini sebelum mulai bekerja, dudahului dengan upacara caru dan mendem pedagingan Panca Datu. Maka semua pengikut beliau selamat. Karena pengikutnya selamat, ditempat ini dinamakan Besakih (Besakih berarti selamat) dan dibangun sebuah Pura Basukihan. Nama pulau itu di ganti manjadi Bali, karena dengan jalan menghaturkan yadnya (wali) berulah bisa menata pulau tersebut.

Dari tonggak pengalaman Rsi Markandia menata pulau ini bisa selamat dengan jalan yadnya, selanjutnya diikutin oleh seluruh umat Hindu di Bali. Mereka menghaturkan yadnya dengan tulus sebagai tanda upacara syukur kepada Hyang Maha Kawi. Didalam hal menghaturkan yadnya, dibuat rambu-rambu agar umat tidak merasa berat. Ada tiga jenis yadnya yaitu kecil, menengah dan besar. Itu bisa dipilih sesuai dengan kemampuan masing-masing.

Tetapi akhir-akhir ini ada segelintir umat yang malas beryadnya, mereka sering mendeskreditkan yadnya, mengatakan yadnya itu memberatkan umat. Bahkan Dr. Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna M Wedasteraputra Suyasa III (Presiden The Hindu Center Of Indonesia) mengatakan upacara dan upakara di Bali sebagai sumber kemiskinan umat, (Bali Post, Rabu, 9 Mei 2012).

Pendapat mereka tersebut perlu diuji secara bijak.Umat HIndu di Bali bergelut dibidang yadnya, dilakoni dari beberapa ribu tahun yang lalu, hal itu menyababkan kehidupan umat harmonis, agama Hindu di Bali ajeg. Mengapa demikian? Yadnya yang dipersembahkan umat mempunyai multi fungsi yaitu kepuasan batin, sedangkan fungsi secara sekala, yadnya disebut sebagai Cakra Yadnya yaitu yadnya mampu memutar peredaran uang, sehingga di Bali tidak terjadi kesenjangan sosial. Berpijak dari hal itu mementahkan tuduhan mereka yang mengatakan upacara dan upakara di Bali sebagai sumber kemiskinan umat. Dan dengan adanya tiga jenis yadnya yaitu kecil, menengah dan besar, bisa dipilih berdasarkan kemampuan masing-masing, itu juga mementahkan tuduhan mereka yang mengatakan yadnya itu yang memberatkan umat.

Adanya fenomena segelintir umat mendeskreditkan yadnya merupakan sinyal penghancuran pondasi Bali, apabila diikuti itu menuju kehancuran Bali yang dengan susah payah ditata oleh Maharesi Markandia dan beberapa orang-orang suci lainnya. Bila ingin mewariskan Bali ini ajeg kepada anak cucu kita, karena bumi Bali memeang dibangun denganpondasi wali atau yadnya, maka merupakan suatu keharusan bagi seluruh krama Hindu di Bali untuk melaksanakan yadnya sepanjang masa di bumi Bali yercinta ini.

Sumber: PURANA (Pustaka Rakyat Nusantara) – Nomor 77/Mei/2006 oleh I Nyoman Suprapta



Semoga Bermanfaat





Ngiring subscribe youtube channel Mantra Hindu inggih [klik disini]





Bermanfaat ? Sebarkan ke Keluarga dan Sahabatmu..

5 thoughts on “PANCA DATU (Asal-Usul Nama Pulau Bali)

  1. Kl kita mau objektif knp ada umat yg berat beryadnya biasanya mereka tdk ditawarkan pilihan lain untuk sarana yadnyanya, jgn disalah artikan bahwa ketika ada kritik mengenai yadnya terus disimpulkan bahwa yadnya dilarang,kita hanya butuh penyesuaian dalam beryadnya,umat gengsi beryadnya dgn meminjam uang bahkan ada yg sampai jual tanah alasan beryadnya padahal utk beli mobil dan biaya hidup malah ada yg hura2… Alasannya juga yadnya,marilah kita menjadi umat cerdas menjadikan kritik sebagai kaca cermin utk berbenah menjadi lebih baik demi menjaga bali khususnya dan agama hindu pd umumnya

    • Nggih bli, butuh kesadaran dari diri sendiri untuk melakukan yadnya, dan bukan untuk gengsi semata malainkan untuk membayar hutang” kita kepada Ida Sang Hyang Widhi yang telah memberikan kita jiwa untuk hidup, Ingging Suksma bli

  2. Sesungguhnya kita hidup di dunia ini adalah bagaimana kita berbuat agar kelak JIWATMAN ini bisa menyatu dengan BRAHMAN ( JIWA YANG TAK LAHIR KEMBALI ).MISKIN KAYA dan SUKSES sekalipun tidak bisa memberikan jaminan atas hal itu karena semua sifatnya maya dan keduniawian.Boleh miskin tapi kaya dengan yadnya daripada kaya tapi miskin dengan yadnya.Diluar Kahyangan Bali banyak orang kaya orang sukses apakah bisa dipastikan disaat kembali kepadanya takkan terlahir kembali, atau justru malah mereka terlahir kembali dengan menjadi makhluk yang lebih rendah daripada manusia karena perbuatannya tidak benar seperti bayak kasus yang kita bisa lihat dan dengar di jaman ini.

    Bersyukurlah lahir di Bali dengan penuh kesederhanaan daripada hidup dengan kelimpahan tetapi tidak mengetahui maksud dan tujuan hidup yang sebenarnya.
    Dengan kesederhaan dan ” yadnya ” kita bisa lepas dengan keduniawian.
    Kekayaan,Kesuksesan,Kelimpahan hanya akan membuat kita menjadi gelap gulita dan jatuh ke dalam jurang yang diikat oleh duniawi.Bumi ini sudah berumur 4,6 Milyar tahun.Mau brapa kali lagi kita lahir di dunia ini?

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mantra & Filosofi Terkait