moksa

Mengenal Lebih Dekat Moksa , “Tujuan Hidup Tertinggi” Dalam Agama Hindu



Dalam agama Hindu, diajarkan lima prinsip keyakinan yang disebut Panca Sraddha yaitu meliputi keyakinan tentang adanya Brahman, Atman, Karma Pala, Punarbhawa, dan Moksa. Gunada menjelaskan bahwa Panca Sraddha adalah dasar untuk mencapai kehidupan tertinggi. Agama Hindu merumuskan empat tujuan hidup yang disebut Catur Purushartha, yaitu:

  1. Dharma (kebenaran), merupakan kebenaran yang dapat mengarahkan manusia untuk berbudi pekerti luhur sesuai dasar hidupnya. Maka dari itu seseorang harus memiliki Dharma didalam dirinya. Karna Dharma yang mengatur dan menjamin kebenaran hidup manusia agar menjadikan daasar manusia untuk bertingkah laku.
  2. Artha (kesejahteraan), dimana sesuatu yang menjadikan alat sebagai tujuan. Artha perlu diamalkan dalam hal kemanusiaan seperti dana punia kepada fakir miskin, orang cacat, yatim suatu dan sebagainya. Dalam ajaran Artha manusia jangan sampai diperbudak oleh nafsu keserakahan itu sendiri hingga menghaburkan wiweka (pertimbangan rasional) sehingga manusia tidak tau akan benar dan salahnya perbuatannya.
  3. Kama (keinginan/kenikmatan duniawi), dimana keinginan itu dilakukan untuk memperoleh suatu kenikmatan (wisaja). Dengan kata lain Kama menunjang hidup yang bersifat tidak kekal. Kama merupakan tujuan hidup untuk mengubah wisaja kama menuju sriya kama, dimana dari mengumbar nafsu (wisaja) dan menuju keinginan akan keindahan rohani (sriya)
  4. dan Moksa (kebebasan sejati), tujuan hidup yang paling tertinggi dimana kita mendapatkan kebebasan yaitu atma kita dapat bersatu dengan Brahman.

Tujuan terakhir dan tertinggi yang ingin dicapai umat Hindu yaitu Moksa. Moksa sendiri dapat diartikan sebagai kebebasan jiwatman atau kebahgiaan rohani. Kata Moksa dapat disamakan dengan nirwana, nisreyasa atau keparamarthan yang merupakan brahman yang sangat gaib dan berada diluar pikiran manusia. Moksa hanya dapat dirasakan oleh orang yang dapat mencapai tujuan tersebut. Bila seseorang sudah mengalami moksa dia akan bebas dari ikatan keduniawian, bebas dari hukum karma dan bebas dari penjelmaan kembali (reinkarnasi) serta dapat mengalami atau mewujudkan Sat (kebenaran), Cit (kesadaran), Ananda (kebahagiaan).

“Banyak jalan dapat dilalui setiap seseorang untuk hidup damai dalam hidup ini, Tuhan selalu membukakan pintu-Nya untuk orang yang berhati mulia dan memulai hidup damai”

Usaha yang dapat ditempuh menuju moksa yaitu dengan berprilaku yang baik, berdana-punia, beryajnya, dan titrhayatra. Usaha-usaha tersebut dapat dilakukan secara bertahap dengan didasarkan niat baik dan suci. Umat Hindu percaya akan dapat membebaskan dirinya (pikiran dan perasaannya) dari ikatan keduniawian, pengaruh suka dan duka yang muncul dari tri guna. Membebaskan diri dari halnya pengaruh tri guna memang sangatlah berat tetapi dapat dilakukan dengan disiplin diri dan mengikuti ajaran-ajaran  agama. Penghayatan dan pengamalan terhadap semua bentuk ajaran  agama dalam hidup merupaan suatu wujud konkrit dari pengamalan sabda Tuhan yang ada dalam pustaka suci.

Lakukan pemujaan dan kerja sebagaimana mestinya guna mewujudkan bhakti terhadap Tuhan. Yakinkan diri bahwa segala sesuatu berawal dan berakhir pada Tuhan. Semua yang kita lakukan tidak mungkin terjadi bila tidak karna beliau berperan didalamnya. Setiap umatnya dapat mencapai moksa, hanya saja proses yang dilakukan setiap umatnya berbeda-beda. Ada yang cepat dan ada pula yang lambat dan sebagainya. Jika kita dapat menghilangkan egois yang ada dalam diri kita, maka perlahan-lahan dan pasti dapat menyatu dengan Brahman.

Renungkan dan laksanakanlah makna sloka berikut ini dengan baik :

Sattvam sukhe sanjayati,

raja karmani bharata,

jnanam avrtya tu tamah,

pramade sanjayaty uta,

Terjemahan:

Sattwa mengikuti seseorang dengan kebahagiaan, rajas dengan kegiatan tetapi tamas, menutup budi pekerti oh Barata, mengikuti dengan kebingungan, (Bhagavadgita XIV.9)

Sattwa dan rajas yang melekat didalam diri kita dan berperan penting untuk membawa umatnya ke kehidupan yang damai namun jika tamas melekat dalam diri kita maka kedamaian hidup tidak kita dapatkan dengan sifat rakus akan duniawi dan sifat budi pekerti yang berkurang dalam diri kita. Namun dengan cara mengendalikan masing-masing sifat tersebut maka kita dapat dengan mudah mencapai kedamaian hidup.

Tujuan utama manusia adalah untuk mewujudkan hidup yang bahagia dengan menyadari dirinya yang sejati. Setelah orang dapat menyadari dirinya yang sejati barulah ia dapat mengetahui tuhan meresap didalam dirinya. Sedikitnya orang yang menginginkan mendapatkan kebahagian rohani “moksa”, masih banyaknya manusia yang hanyut dalam duniawi yang penuh gelombang suka duka.

Kita sebagai umatnya harus menyadari bahwa tubuh ini hanya sebuah alat untuk mencapai/mewujudkan moksa. Moksanam sariram sadhanam yang artinya tubuh ini adalah alat untuk mencapai moksa. terkadang orang memakai tubuh ini untuk kepuasan manusiawi bukan sebagai alat mewujudkan moksa dengan membiarkan tamas mengendalikannya, maka kita seharusnya menjaga sebaik-baiknya tubuh yang telah diberikan.

Moksa dapat dicapai oleh semua manusia, baik semasih hidup maupun yang sudah meninggal. Manusia diberikan tingkatan-tingkatan menurut atma yang dihubungkan dengan Brahman. Hal tersebut memiliki tingkatannya tersendiri yaitu :

  1. Jiwamukti merupakan tingkatan moksa dimana kebahagiaan atau kebebasan dapat dicapai oleh seseorang semasa hidupnya, dimana manusia tidak lagi terpengaruh akan hal gejolak indria dan maya (pengaruh duniawi). Dimana manusia semasa hidupnya mampu mengendalikan kebebasan tersebut. Keadaan atma seperti ini dapat disamakan seperti: a. Samipya yang merupakan suatu kebebasan yang dapat dicapai seseorang semasa hidupnya dimana yang melakukan biasanya para Yogi dan para Maharsi dengan melakukan yoga samadhi untuk melepas unsur-unsur maya dan dalam keadaan tersebut maka atma berada sangat dekat dengan Tuhan. b.Sarupya (sadharmya) yang merupakan suatu kebebasan yang dapat didapatkan seseorang di dunia ini, karena kelahirannya, kedudukan atma yang didapatkan merupakan pancaran dari kemahakuasaan Tuhan.pengaruh duniawi dan mampu menerapkan moksa untuk mencapai kebahagiaan dan
  2. Widehamukti merupakan tingkat kebebasan yang didapat dicapai seseorang semasa hidupnya, dimana atmanya telah meninggalkan badan wadagnya (tubuhnya), namun rohnya masih terpengaruh maya yang tipi. Tingkat atmannya setara dengan Brahman namum belum dapat bersatu karna pengaruh maya yang masih melekat dan belum dapat menyatu dengan-Nya. Hal ini sejajar seperti ajaran Salokya yang merupakan kebebasan yang dicapai oleh atma, dan atma itu sendiri berada dalam posisis sejajar dan kesadaran yang sama dengan Tuhan. Dalam artian atma sudah mencapai tingkatan Deva yang merupakan manivestasinya dari Tuhan.
  1. Purnamukti merupakan tingkat kebebasan yang paling sempurna. Dimana atma sudah menyatu dengan Brahman. Seeorang akan mencapai posisi ini jika bersunggfuh-sungguh dengan kesadaran dan hati yang suci dan mampu melepaskan diri dari keterikatan maya. Dapat disamakan dengan ajaran seperti:
  2. Sayujya yang merupakan tingkat kebebasan yang tertinggi dimana atma telah mampu bersatu dengan Tuhan Yang Maha Esa. Keadaan inilah disebut Brahman Atma Aikyam (Atma dan Brahman sesungguhnya tunggal).

Dalam artian manusia dapat mencapai moksa dengan tingkatan dan ajaran-ajaran agama Hindu sendiri. Dengan selalu membebaskan dan melepaskan diri dari duniawi maka kebahagiaan dan kedamaian dapat kita capai. Dan memfokuskan diri kepada-Nya maka atma akan bersatu dengan Brahman, tanpa ada keterikatan maya dan hati yang suci. Manusia berangsur-angsur ingin mencapai tujuan hidup yang tertinggi. Namun tak terlepas dari duniawi, sedikitnya orang sadar akan moksa tersebut dan masih banyaknya manusia yang terpengaruh akan kesenangan duniawi, dengan tanpa sadar atma mereka telah jauh dari Brahmannya.

Moksa itu sendiri akan ada dengan kesadaran manusia yang mampu mengendalikan diri akan hal duniawi dan mampu melepaskan keterikatan maya dengan kata lain manusia dapat mewujudkan hidup damai dengan melakukan ajaran moksa sesuai agama Hindu. Dalam waktu tertentu sesuai dengan proses, namun jika dilakukan dengan sungguh-sungguh maka secara perlahan atma dapat bersatu dengan Brahman dan terwujudlah kebahagian dan kedamaian hidup yang tercapai oleh manusia itu sendiri.

Umat manusia dalam mewujudkan tujuan hidup dan tujuan agama Hindu dengan dapat melaksanakan catur marga yang terdiri dari karma marga, bhakti marga, jnana marga, raja marga. Catur marga yang merupakan empat cara maupun jalan untuk mewujudkan kesejahteraan dan kebahagiaan hidup ini. Pengikut Raja Marga berkewajiban untuk mengimplementasikan Astangga Yoga guna mewujudkan tujuannya. Dengan Astangga Yoga mereka dapat terhubung dengan rohaninya. Astangga Yoga yang merupakan delapan tahapan untuk mencapai moksa, yang diajarkan oleh Maha Rsi Patanjali dalam bukunya yang disebut dengan Yoga Sutra Patanjali. Seperti yang disebutkan dalam bagian-bagian dari ajaran Astangga Yoga yaitu:

  1. Yama

Yama merupakan suatu bentuk pengendalian diri yang harus dilakukan seseorang dari segi jasmani.

  • Ahimsa: dengan tidak membunuh (ahimsa) ataupun menyakiti seseorang ataupun membalas kejahatan seseorang walau hanya dengan menyakiti tanpa membunuh itu tetap termasuk pelanggaran ajaran yama,
  • Satya: dilarang berbohong (satya) maupun itu terhadap anak kecil ataupun orang yang sedang sakit, pantang menginginkan sesuatu yang bukan miliknya (asteya) sudah termasuk kedalam seseorang yang memiliki sifat iri akan milik orang lain dan sifat egois, sifat seperti ini yang harus dikendalikan dari diri setiap manusia, pantang melakukan seksual atau bersetubuh (brahmacari) dan tidak menerima pemberian dari orang lain (aparigraha)termasuk tidak meminta-minta. Dalam ajaran agama Hindu tidak ada mengajarkan manusia untuk meminta-minta atas dasar belas kasihan.

 

  1. Nyama

Nyama merupakan bentuk pengendalian diri yang lebih bersifat atau bertuju rohani. Dengan cara seperti berikut:

  • Sauca: tetap suci lahir batin dimana seseorang hidup dalam kedamaian dan kebahagiaan tanpa adanya dosa dengan jalan memusatkan pikiran kepada Tuhan yaitu mengikuti ajaran-ajaran agama Hindu dan ajaran moksa.
  • Santosa: selalu puas dengan apa yang datang yaitu dimana seseorang bisa menerima apa pemberian Tuhan tanpa harus mengeluh seperti pemberian akan kekayaan dan keturunan, seberapapun dan sebagaimanapun itu adalah pemberian Tuhan untuk kita syukuri.
  • Swadhyaya: mempelajari kitab-kitab keagamaan dimana semakin banyak kita membaca kitab-kitab keagamaan dan mempelajarinya maka semakin banyak ilmu yang kita tahu dan kita dapatkan untuk pedoman hidup sejahtera.
  • Iswara pranidhana: dan selalu bakti kepada Tuhan dimana kita selalu mengingat Tuhan dimana kita berada dengan rajin sembahyang, menerapkan ajarannya, melakukan hal baik, serta dapat menyucikan diri dan hati dari hal yang tidak baik.

 

  1. Asana merupakan sikap duduk seseorang yang teratur, disiplin dan benar. Seperti duduk seorang pria yang benar dalam melaksanakan persembahyangan dalam agama Hindu yaitu padmasana, sedangkan yang wanita yang benar saat melaksanakan sembahyang dalam agama Hindu yaitu bajrasana

 

  1. Pranayama merupakan pengaturan pernafasan sehingga menjadi sempurna melalui tiga jalan yaitu:
  • Menarik nafas (puraka),
  • Menahan nafas (kumbhaka)
  • Dan mengeluarkan nafas (recaka).

Dengan adanya pengaturan nafas kita dapat merilekkan otak dan syaraf agak tidak menjadi tegang, dan dapat mengontrol emosional seseorang agar lebih tenang dan tidak mudah terbawa suasana hati.

  1. Pratyahara merupakan hal yang harus kita hindari yai mengontrol dan mengendalikan indria dari ikatan objeknya, sehingga orang dapat melihat hal-hal suci. Seperti wanita yang menggunakan baju mini yang memperlihatkan aurat mengundang objek disekitar untuk melihatnya. Sebagaimana yang ada dalam ajaran
  1. Dharana merupakan usaha-usaha untuk menyatukan pikiran dengan sasaran yang diinginkan. Seperti saat melakukan yoga kita akan memusatkan pikiran kita ke satu titik saja dan membuat otak berefleksi
  1. Dhyana merupakan pemusatan pikiran yang tenang, tidak tergoyahkan kepada suatu objek. Dhyana dapat dilakukan terhadap Ista Devata
  1. Samadhi merupakan penyatuan atma dengan Brahman. Seseorang yang melakukan yoga dengan bersungguh-sungguh dan teratur maka akan mendapatkan getaran-getaran suci dan wahyu dari Tuhan

Mereka yang melakukan yoga akan mendapatkan ketenangan. Bila melakukan empat jalan yang ditempuh untuk mencapai moksa dengan sungguh-sungguh maka akan memiliki kekuatan yang sama. Setiap orang memiliki caranya tersendiri untuk mencapai moksa dengan berbagai variasi. Moksa yang merupakan tujuan hidup seseorang bukanlah janji yang hampa, melainkan keyakinan yang jika dilakukan bersungguh-sungguh akan berakhir dengan kenyataan. Moksa merupakan sesuatu yang tidak dapat dibantah kebenarannya, demikian yang dijelaskan oleh kitab suci.

Moksa itu sendiri merupakan lepasnya Atma dari belenggu maya (bebas dari pengaruh karma dan punarbhawa) dan akhirnya bersatu dengan Tuhan Yang Maha Esa. Dalam hubungan dengan penyatuan dengan Tuhan, renungkanlah dan amalkanlah sloka berikut :

“Bhaktya tvananyanya sakya,

Aham evam-vidho; ‘rjuna,

Jnatum drastum cha tattvena

Pravestuma paramtapa”.

Terjemahan:

Akan tetapi dengan berbakti tunggal padaku, O Arjuna, Aku dapat dikenal, sungguh dapat dilihat dan dimasuki ke dalam, O penakluk musuh. (Bhagawadgita XI. 54).

Ajaran kitab Astangga Yoga yang ditulis oleh Maharsi Patanjali, mengajarkan umat manusia agar mengupayakan dirinya masing-masing untuk mewujudkan kesejahteraan dan kebahagiaan hidup. Dengan membawa diri kejalan yang benar dan melaksakannya secara bersungguh-sungguh maka kebahagiaan dan kemakmuran yang akan dicapai dalam kehidupan.

sumber: Buku Moksa. Komang Suhardana



Semoga Bermanfaat





Ngiring subscribe youtube channel Mantra Hindu inggih:




Bermanfaat ? Sebarkan ke Keluarga dan Sahabatmu..

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mantra & Filosofi Terkait