[ X Tutup Iklan]

Hare Krisna, Samakah Dengan Agama Hindu?

hare-krisna

Ajaran Hare Khrisna (HK) adalah filsafat dan ajaran ketuhanan yang bersumber dari Bhagawad Gita yang penulisannya dipengaruhi oleh aliran Hindu atau sad darsana, terutama dari aliran Samkhya, Yoga dan Wedanta.  Para penganut Hare Khrisna menggunakan Veda sebagai Refferensi untuk menguatkan isi Bhagavadgita sehingga kebanyakan orang berfikir bahwa ajaran Hare Khirsna murni dari Veda. Padahal jika […]

Selengkapnya


Dewa Wisnu Sang Pemelihara

wisnu and garuda

Dalam ajaran agama Hindu, Wisnu (Dewanagari: विष्णु ; Viṣṇu) (disebut juga Sri Wisnu atau Nārāyana) adalah Dewa yang bergelar sebagai shtiti (pemelihara) yang bertugas memelihara dan melindungi segala ciptaan Brahman (Tuhan Yang Maha Esa). Dalamfilsafat Hindu Waisnawa, Ia dipandang sebagai roh suci sekaligus dewa yang tertinggi. Dalam filsafat Adwaita Wedanta dan tradisi Hindu umumnya, Dewa Wisnu […]

Selengkapnya


Sejarah OGOH-OGOH

ogoh ogoh senyum

Ogoh-ogoh tersebut dikenal sejak jaman Dalem Balingkang dimana pada saat itu ogoh-ogoh dipakai pada saat upacara pitra yadnya. Pendapat lain menyebutkan ogoh-ogoh tersebut terinspirasi dari tradisi Ngusaba Ndong-Nding di desa Selat Karangasem. Perkiraan lain juga muncul dan menyebutkan barong landung yang merupakan perwujudan dari Raden Datonta dan Sri Dewi Baduga (pasangan suami istri yang berwajah […]

Selengkapnya


“Suksma” Tidak Berarti Terima Kasih Pada Pemuspaan (Kramaning Sembah)

wanita bali sembahyang

Pada pemuspaan (kramaning sembah) bait ke lima: “Om Dewa Suksma Parama Acintyaya Namah Swaha” didahului pengantar dari Jero Mangku: “Inggih, penguntat mangkin ngiring ngaggen tangan kosong,ngaturang suksma ring Sanghyang Widhi” atau ada juga memakai bahasa Indonesia: “Terakhir, mari kita menggunakan tangan kosong mengucapkan terimakasih kepada Sanghyang Widhi” Menurut Weda Parikrama, “suksma” tidak berarti terima kasih, tetapi […]

Selengkapnya


Penjelasan dan Tata Cara Puja Trisandya, Kramaning Sembah, dan Me-Saiban

644317_4775790152715_1741764808_n

Puja Trisandya dilaksanakan tiga kali sehari karena menurut Lontar Niti Sastra, kita sebagai penganut Hindu Sekte Siwa Sidanta memuja Matahari (Surya) sebagai keagungan dan kemahakuasaan Hyang Widhi. Matahari juga sumber energi atau sumber kehidupan. Pemujaan itu dimulai pagi-pagi menyongsong terbitnya matahari (sekitar jam 05.30), siang hari tepat jam 12.00 ketika Bumi berada dalam posisi yang […]

Selengkapnya


Masa Pra Sejarah di Bali

goagajah old photo

Zaman prasejarah Bali dimulai sejak Pulau Bali didiami oleh manusia Indonesia yang tertua, yang belum mengenal tulisan. Pada zaman ini telah ditemukan kembali berbagai macam perkakas dan benda-benda yang berkaitan dengan keperluan keagamaan. Kenyataan ini telah membuktikan bahwa masyarakat prasejarah Bali telah berhasil mencapai suatu tingkat kehidupan yang maju, yang kemudian menjadi dasar bagi perkembangan […]

Selengkapnya